liza's posts with tag: umar bin abdul aziz
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Beliau seorang tabiin terhormat, khalifah ke-8 dari Bani Umayyah yang berkuasa 717-720 M. Ia digelari Khulafaur Rasyidin ke-5 karena memerintah sesuai dengan sistem Khulafaur Rasyidin.
Umar bin Abdul Aziz lahir di Halwan, Mesir tahun 61 H / 682 M. Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abi Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdisyams bin Abdimanaf bin Qushay bin Kilab. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab yang nantinya dikenal dengan nama Ummi Ashim. Jadi, Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah dan khalifah ke-2 kaum muslimin.
Kelahiran Umar bin Abdul Aziz tidak lepas dari kebiasaan Khalifah Umar berjalan-jalan berkeliling negeri di malam hari untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya. Pada suatu malam ia mendengar dialog seorang ibu penjual susu yang miskin dengan anak perempuannya. Si ibu meminta anaknya menambahkan air pada susu yang mereka jual supaya penghasilan mereka bertambah. Anaknya menolak karena Amirul Mukminin (khalifah) telah melarang mereka berbuat demikian, meskipun khalifah tidak melihat perbuatan mereka, tetapi Tuhannya khalifah melihatnya. Khalifah Umar sangat terkesan dengan kemuliaan hati anak perempuan tersebut. Ia pulang ke rumah dan menyuruh anak lelakinya, Ashim, menikahi gadis itu. Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam.” Dari pernikahan mereka lahir anak perempuan bernama Laila. Setelah dewasa Laila menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan dan memiliki anak bernama Umar. Dalam suatu mimpinya jauh sebelum kelahiran Umar bin Abdul Aziz, Umar bin Khattab melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dia memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya. Saat Umar meninggal, cerita ini terpendam di antara keluarganya saja.
Saat Umar bin Abdul Aziz lahir, ayahnya adalah Gubernur Mesir di era Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana yang mewah. Ia pernah mendapat kecelakaan, tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek. Semua orang panik dan menangis, tetapi ayahnya tersenyum. Sambil mengobati luka Umar, Abdul Malik berkata, “Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insya Allah terwujud, dialah anak keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.”
Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu dan telah menghafal Al Quran sejak masih kecil. Ia selalu berada dalam majelis ilmu bersama ahli fikih dan ulama. Kemudian ia meminta ayahnya untuk membawanya ke Madinah agar dapat belajar banyak dengan para ahli fikih dan menyelami perilaku mereka. Ia dibesarkan di Madinah di bawah bimbingan Abdullah bin Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak, dan berguru dengan beberapa tokoh terkemuka seperti Imam Malik bin Anas, Urwah bin Zubair, Yusuf bin Abdullah. Umar bin Abdul Aziz terkenal di Madinah dengan kecerdasan dan kedalam ilmunya walaupun ia masih sangat muda. Ia tinggal di Madinah sampai ayahnya meninggal. Setelah itu ia dipanggil ke Damaskus oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk diasuh bersam puteranya yang lain. Kemudian Khalifah menikahkannya dengan puterinya, Fatimah.
Ketika Al Walid I (Al Walid bin Abdul Malik) menjabat khalifah, Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah tahun 706 M. Ia menjabat tahun 86–93 H. Umar membentuk sebuah dewan yang bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan. Di masa pemerintahannya,persoalan yang dihadapi pemerintah dapat diselesaikan di Madinah sehingga keluhan resmi ke Damaskus berkurang, . Banyak orang dari Irak datang ke Damaskus mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al Hajjaj bin Yusuf. Ini membuat Al Hajjaj marah dan menekan Al Walid agar memberhentikan Umar. Walaupun diberhentikan, Umar telah memiliki reputasi yang tinggi di kekhalifahan Islam masa itu. Di masa kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik, Umar diangkat menjadi menteri kanan dan penasihat utama khalifah.
Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Menjelang Khalifah Sulaiman wafat, penasihat kerajaan, Raja’ bin Haiwah menasihatinya, “Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebab engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk umat Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?” Khalifah Sulaiman menjawab, “Aku melihat Umar bin Abdul Aziz.” Dalam surat wasiatnya ditulis nama Umar bin Abdul Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi ini dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga karena khawatir terjadi fitnah sebab khalifah baru bukan keturunan Abdul Malik bin Marwan. Sebelum wafat, Sulaiman memerintahkan para menteri dan gubernur berbaiah dengan calon khalifah yang namanya tercantum dalam surat wasiat.
Setelah Sulaiman bin Abdul Malik meninggal, umat Islam berkumpul di masjid dalam keadaan bertanya-tanya siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ bin Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini.” Umar bin Abdul Aziz lalu berpidato, “Wahai manusia! Saya diuji untuk mengemban tugas ini tanpa dimintai pendapat, permintaan dari saya, atau musyawarah kaum Muslimin. Maka sekarang saya membatalkan hajat yang kalian berikan kepada saya dan untuk selanjutnya pilihlah khalifah yang kalian suka!” Tetapi orang-orang yang hadir serempak berkata, Kami telah memilih engkau. Perintahlah kami dengan kebahagiaan dan keberkatan.” Kemudian Umar berkata, Wahai manusia! Barang siapa menaati Allah wajib ditaati, siapa yang mendurhakai-Nya tidak boleh ditaati. Taatilah saya selama saya menaati Allah dalam memerintahmu dan jika saya mendurhakai-Nya, tidak ada seorang pun boleh menaati saya.”
Setelah mengurus pemakaman Sulaiman, Umar pulang ke rumah untuk beristirahat hingga Zuhur. Tetapi puteranya Abdul Malik melarangnya beristirahat sebelum mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi karena tidak ada jaminan khalifah Umar masih hidup sampai waktu Zuhur. Mendengar perkataan puteranya, Umar segera berdiri dan merangkul anaknya. Ia sangat bersyukur memiliki anak yang menolongnya dalam beragama. Setelah itu ia memerintahkan untuk menyeru semua orang, bahwa orang yang pernah dicurangi orang lain agar melapor. Umar pun mengembalikan hak-hak yang telah dirampas dengan curang kepada yang punya.
Umar pernah mengumpulkan ahli fikih dan ulama untuk meminta pendapat mereka mengenai hasil tindakan curang yang terjadi di keluarganya. Mereka mengatakan, ”Itu semua terjadi sebelum masa pemerintahanmu, maka dosanya bagi yang merampas.” Umar tidak puas dengan jawaban itu dan meminta pendapat kelompok lain yang juga beranggotakan anaknya, Abdul Malik. Abdul Malik berkata, ”Saya berpendapat, hasil-hasil itu harus dikembalikan kepada yang berhak, selama engkau mengetahuinya. Jika tidak dikembalikan engkau menjadi kelompok mereka yang merampasnya dengan curang.” Mendengar itu Umar puas dan langsung berdiri untuk mengembalikan hasil tindak kecurangan itu.
Umar bin Abdul Aziz mulai memerintah di saat dinasti Bani Umayyah mengalami pembusukan internal yang serius, dan ia bagian dari dinasti ini. Ia tidak lama memerintah, hanya 2 tahun 5 bulan, tetapi namanya ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Dalam masa pemerintahannya, Umar berhasil memulihkan keadaan negara dan mengondisikan negara seperti saat 4 khalifah pertama memerintah. Kebijakan dan kesederhanaan hidupnya tidak kalah dengan Khulafaur Rasyidin. Umar bin Abdul Aziz telah melakukan reformasi total, menegakkan keadilan hingga bisa meraih memakmuran. Indikator kemakmuran yang ada saat itu luar biasa. Para amil zakat berkeliling negeri, tapi mereka tidak menemukan seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, mustahiq zakat telah habis. Negara benar-benar surplus, bahkan sampai pada tingkat rumah, kendaraan, utang pribadi, dan biaya pernikahan warga ditanggung negara.
Semuanya tidak dilakukan dengan mudah. Memulai dari diri sendiri, keluarga, istana, itulah yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz untuk memulai reformasi. Selesai dilantik, Umar memasukkan seluruh harta pribadinya ke kas negara untuk kepentingan seluruh kaum muslimin. Ia hanya mengambil 2 dirham untuk kebutuhannya Ia juga menolak tinggal di istana yang mewah dan memilih tetap tinggal di rumahnya. Hidupnya berubah total dari pencari dunia menjadi seorang yang zuhud, pencari kehidupan akhirat yang abadi. Setelah selesai dengan dirinya, ia melangkah dengan keluarga inti. Ia memberi istrinya dua pilihan, perhiasan dan harta pribadinya atau Umar bin Abdul Aziz sebagai suaminya. Istrinya memilih ikut bersama suaminya dalam reformasi ini. Langkah ini juga dilakukannya dengan anak-anaknya. Awalnya anaknya protes karena sejak ayahnya menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi makan makanan enak. Mendengar ini Umar menangis dan berkata, ”Aku beri kalian makanan yang enak dan lezat, tapi kalian harus rela memasukkanku ke neraka atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama. Selanjutnya ia melangkah ke istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang mewah yang ada di istana dan memasukkan uangnya ke kas negara. Ia juga mencabut secara bertahap fasilitas mewah yang selama ini dinikmati keluarga istana. Langkah pembersihan diri, keluarga, dan istana ini meyakinkan publik akan kebijakan politik pemerintah. Khalifah telah berhasil menunjukkan tekadnya melakukan perubahan dan memberi teladan yang menakjubkan. Dalam memerintah Khalifah Umar bekerja sama dengan ulama dan bertindak atas dasar wahyu Ilahi.
Langkah kedua Umar adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara terletak pada struktur negara yang gemuk, birokrasi yang panjang, yang administrasi rumit, dan gaya hidup para penyelenggara negara. Umar mulai membersihkan struktur negara dari pejabat yang korup, tidak kompeten yang dilantik karena pengaruh keluarga khalifah; merampingkan struktur.negara; memperpendek rantai birokrasi; dan menyederhanakan administrasi negara. Sebagai gantinya ia mengangkat pejabat yang bersih dan berwibawa. Umar juga menghapuskan pegawai pribadi bagi khalifah sehingga khalifah mudah bertemu dengan rakyat.
Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi negara secara adil. Umar memompakan semangat bisnis dan wirausaha di tengah masyarakat, memompakan semangat menolak kemiskinan dan menolak kemewahan. Ia mengingatkan rakyatnya bahwa memberi zakat lebih mulia daripada menerima zakat, sedangkan jika menjadi orang miskin bagaimana akan membayar zakat. Zakat merupakan bentuk subsidi silang yang langsung dapat dirasakan manfaat ekonominya. Zakat mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat karena akan menaikkan daya beli. Ini menaikkan permintaan masyarakat yang selanjutnya menaikkan suplai barang sehingga produksi akan meningkat. Jadi, zakat mempunyai efek yang baik untuk ekonomi secara mikro dan makro.
Umar bin Abdul Aziz juga menekankan pengamalan agama. Ia memerintahkan mendirikan shalat berjamaah, menjadikan masjid tempat mempelajari hukum Allah, mengarahkan Muhammad bin Abu Bakar Al-Hazni di Makah mengumpulkan dan menyusun hadits Rasul. Dalam bidang ilmu, ia mengarahkan cendikiawan Islam menerjemahkan buku kedokteran dan ilmu lain dari bahasa Yunani dan Latin ke bahasa Arab agar mudah dipahami umat Islam. Ia juga mengirim ulama ke Afrika Utara, raja-raja di India, dan Turki, bahkan sampai ke Sriwijaya untuk mengajak mereka kepada Islam. Selain itu ia menghapuskan bayaran jizyah yang diwajibkan kepada orang yang bukan Islam dengan harapan banyak di antara mereka yang akan memeluk Islam. Pada masa pemerintahannya, Portugis dan Spanyol sudah di bawah kekuasaan Islam dan pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Kebijakannya yang lain adalah: membangun wisma untuk musafir dan ibnu sabil; memberi karyawan gaji yang cukup; memberi ulama dan cerdik pandai jaminan kebutuhan hidup supaya mereka dapat berkonsentrasi pada bidang masing-masing tanpa memikirkan kebutuhan hidup;memberi orang buta penuntun yang digaji negara, menampung dan membiayai anak yatim yang tidak punya saudara; mremberi gubernur gaji dan tunjangan yang besar supaya tidak korupsi.
Umar bin Abdul Aziz meninggal tahun 101 H, diracun oleh pembantunya. Muhammad bin Ali bin Husain berkata tentang beliau, ”Kalian tahu setiap kaum selalu mempunyai satu tokoh yang menonjol dan tokoh yang menonjol dari Bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz. Saat dibangkitkan di hari kiamat kelak merupakan satu kelompok tersendiri.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz http://dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=900&cat=2 http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/abad-02/umar-bin-abdul-aziz-ra-61-101-h.html http://www.belajarislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=132%3Akhalifah-umar-bin-abdul-aziz&itemid=96
| |