Itiak gulai ijau merupakan menu favorit keluarga besarku. Kalau pulang lebaran, ini masakan yang paling dirindukan. Tapi... 1001 orang menggulai itiak, berapa ratus ekor tuh yang dikorbankan?
=============================================================
1.001 Perempuan Siap Menggulai Itiak
Eka Ridhaldi Alka - Padang Ekspres
Seribu orang perempuan dari 10 kelompok dasa wisma di kecamatan IV Koto dan Banuhampu, Kabupaten Agam, saat ini telah mulai mempersiapkan diri menyambut Festival Gulai Itiak pada puncak peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Bahkan berbagai persiapan menjelang puncak acara pada 24 Januari mendatang tersebut telah dikebut, seperti didirikannya tenda serta peralatan upacara lainnya.
Gulai Itiak Ijau adalah salah satu masakan khas dari Ranah Minang, khususnya dari Nagari Kotogadang dan nagari-nagari sekitarnya, kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumbar. Dari pantauan Padang Ekspres (Group Padang-Today) di Koto Gadang, Selasa (20/1), ratusan warga melakukan goro masal membersihkan kawasan yang akan menjadi pusat kegiatan, di simpang empat Mesjid Nurul Iman Koto Gadang.
Sementara belasan pekerja juga sedang mendirikan tenda roder berukuran 10x30 meter dan tenda tamu ukuran 15x10 meter serta podium utama seluas 7x5 meter, yang berlokasi di halaman Masjid Nurul Iman tadi. Juga terdapat 15 unit tenda kerucut berukuran 3x3 meter, yang nantinya akan dijadikan tempat pameran sejumlah kerajinan home industri dari Koto Gadang dan daerah disekitarnya.
Dilain pihak, beberapa tukang bangunan juga terus menyelesaikan pekerjaan pembangunan Mesjid Nurul Iman, yang nantinya akan menjadi background puncak acara Rang Minang Baralek Gadang. Wali Nagari Koto Gadang, Budi Zulfikar menjelaskan, selaku koordinator Festival Gulai Itiak pihaknya terus melakukan berbagai persiapan. Diantaranya mengkoordinir 7 nagari di kecamatan IV Koto dan 3 nagari di kecamatan Banuhampu, untuk memeriksa persiapan terakhir ibu-ibu yang akan menggulai itiak pada festival tersebut.
“Kita melibatkan masing-masing satu kelompok dasa wisma dari 10 nagari yang telah ditentukan tadi. Setiap dasa wisma akan beranggotakan 100 orang, yang dikoordinir pula oleh satu ketua kelompok. Setiap kelompok nantinya akan memiliki satu dapur umum, yang pada H-1 telah selesai menggulai itiak,” ungkap Budi Zulfikar.
Gulai itiak karya 1001 perempuan tadi nantinya akan disajikan dan dimakan bersama seluruh undangan serta anak nagari yang hadir pada puncak acara Rang Minang Baralek Gadang, yang rencananya akan dihadiri Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Gulai itiak tersebut dihidangkan dalam belanga, yang akan dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai prosesi memasak dengan tungku dan belanga terbanyak di Indonesia.
“Kita juga akan mendirikan stand pameran yang akan diisi oleh perempuan pengrajin kerajinan tradisional, yang tergabung dalam organisasi Bundo Sakato. Kelompok tersebut beranggotakan pengrajin perak, bordir dan sulaman, yang selama ini dibawah binaan Kelompok Pengrajin Perempuan (KPP) kenagarian Koto Gadang,” ungkap Budi Zulfikar.
Budi Zulfikar juga menjelaskan, seluruh prosesi memasak gulai itiak ini dilakukan secara tradisional. Belanga yang akan dipakai memasak terbuat dari tanah liat, kemudian memasak menggunakan kayu bakar serta memakai bumbu ramuan tradisional dan itiak yang akan dimasak juga berasal dari daerah sekitarnya. Nantinya hasil masakan tersebut juga akan dinilai.
“Kita juga telah meminta rekomendasi dari dinas terkait di Agam dan Sumatera Barat, ketika puncak acara menggulai 1001 itiak ini akan terlihat kepulan asap yang cukup banyak dari daerah Koto Gadang dan sekitarnya, karena asap ratusan tungku yang sedang dibakar oleh 1001 perempuan ini,” ungkap Budi Zulfikar.(*)
http://www.padang-today.com/?today=news&id=3281