Semuanya berawal dari Bank Permata yang memindahkan mesin atm-nya dari Plaza Pondok Gede. Jadinya sepanjang perjalananku berangkat dan pulang kerja gak ketemu atm Permata sama sekali
Pagi ini rencananya mau berangkat lebih awal jam 6.15, mo ke atm dulu, transfer uang pendaftaran training. Seperti biasanya pagi-pagi mondar-mandir gak karuan, aku baru berhasil berangkat setengah tujuh. Jalan ke halte bus, busnya datang, naik, sampai di Arion, masuk ke ruang atm, transfer uang, keluar, jalan lagi ke halte. Masih lancar
Itu udah jam 7. Tunggu-ditunggu, bus P98 incaranku belum datang juga. Ke by pass dulu aja, pikirku, biar bisa naik P9 juga (bus langganan). Akhirnya aku naik P64 karena dia yg duluan lewat. Alamak!!! Jalannya layak keong, lelet banget. Aku sebel sendiri. Setelah perjalanan yang lamaaaa sekali, akhirnya sampai di perempatan Pramuka-Pemuda, aku turun terus nunggu P9 atau P98, mana yang duluan aja, gak milih-milih nih. Itu udah jam 7.25. Masalah bmasih berlanjut, kedua bus itu gak ada juga. Setelah berkali-kali lampu merah dan hijau di Pramuka menyala, aku melihat P9 datang. Alhamdulillah bisa berangkat nih. Itu pikiranku. Ternyata busnya masuk jalur busway yang belum digunakan. Aku melambai-lambaikan tangan menyetop bus, kondekturnya malah suruh aku ikut yang belakang. Berarti ada 2 bus dekatan. Aku liat bus berikutnya datang dari arah Pramuka. Tapi... ini pun lewat jalur busway. Wah busnya kejar-kejaran nih, berebut duluan nyampe Pinang Ranti. Aku cuma bisa melihat bus melaju dan kondekturnya yang melihatku cuma tertawa karena dengan posisi itu busnya memang sulit berhenti, dan aku pun gak mungkin nyebrang, lalu lintas lagi ramai. Catatan: kondektur bus P9 bisa hafal dengan penumpangnya karena pagi hari penumpang arah Pondok Gede gak banyak, dan itu-itu aja. Saat itu aku gak berani liat jam, ini sudah pukul berapa.
Gak mau ditinggal bus lagi, aku memutuskan jalan kaki ke halte Utan Kayu. Nunggu bus di halte memang lebih aman. Naik P9 sangat gak mungkin karena bus berikutnya pasti lamaaaaa sekali. P98 masih ada harapan, cuma gak tau lewatnya kapan. Aku berpikir naik bus ke UKI aja, lebih pasti walau lebih lama. Bus 57 berhenti di halte, di lampu merah Utan Kayu ada bus lagi, cuma aku gak bisa liat nomornya. Pas ditanya sama kondektur 57 katanya P98, syukurlah. Aku gak perlu ke UKI. Tiba-tiba kondekturnya ngeralat, itu P17A katanya. Naiklah aku ke 57, tapi dengan separuh hati. Setelah duduk, aku berdiri lagi dan ngeliat ke belakang, lampu hijau menyala, bus yang di belakang mendekat, P98!!!! Alhamdulillah. Aku langsung turun dari 57 dan naik P98. Itu jam 7.55. Begitu bus sampai Garuda, aku turun. Kok macet?!?! Aku jalan kaki dan baru naik angkot pas kulihat kendaraan di situ mulai melaju, bukan merambat. Syukurlah macetnya cuma sampai rumah sakit haji, setelah itu bablas, supirnya pun ngebut. Demi memperkecil keterlambatan, sampai di pasar Pondok Gede aku nyambung naik ojek. Dan berhasil sampai di kantor jam 8.30, parahkan dengan jam kantor yang jam 8.00. dapat surat tilang deh