Libur di awal minggu ini aku nemenin teman ke kolam renang khusus muslimah di Gudang Peluru. Benar-benar cuma nemenin, karena yang lain nyebur, aku cuma nonton dari pinggir kolam. “Nonton pesut berenang,” kataku pada teman-teman. Aku malas saja ikutan main air (cuma main air karena aku gak bisa berenang). Tapi senang pergi bareng-bareng, lumayan untuk suasana baru dan obat stres setelah proyek 3 bulan kemarin.
Jadi ingat kalau pulang kampung dan nginap di rumah nenek di Solok. Biasanya kalau nginap di Solok, kami suka ke pemandian air panas (kami menyebutnya Aia Angek) di Bukik Kili, Koto Baru, sekitar ½ jam dari kota Solok arah ke Padang. Itu pemandian air panas di perkampungan penduduk, berupa kolam besar tertutup yang dikelilingi perbukitan. Tempat mandi laki dan perempuan tentu terpisah. Ada juga kamar-kamar mandinya, tapi aku tidak pernah tertarik untuk memakainya. Di kolam itu juga ada pancuran yang panas airnya berasa. Kalau ke Ciater paling aku cuma bisa basuh-basuh kali dan tangan, gak bisa berendam. Karena aku gak suka berendam di kamar mandinya, kecil, gak puas! Beda dengan di Bukik Kili ini, bisa berendam sepuasnya, save!!!
Biasanya kami berangkat habis subuh, jam ½ 6-an, ini bukan subuh yang kesiangan, tapi subuh di sana memang jam 5. Kalau ibu-ibu yang ke situ, selain mandi mereka juga nyambi nyuci. Selain kolam yang besar juga ada 1 kolam yang jauh lebih kecil. Aku gak pernah tau kolam itu sebenarnya untuk apa, yang aku tau kolam itu sering dipakai ibu-ibu untuk mencuci pakaian. Kalau cuma pakaian yang dipakai, terus habis mandi dicuci itu masih masuk akal. Aku pernah melihat ibu-ibu bawa cucian dari rumah ke sana. Gak usah jauh-jauh, tanteku satu di antara ibu-ibu itu hehe. Kalo digodain tanteku bilang, tanggung kalau cuma nyuci dikit. Untung air dari kolam kecil tidak mengalir ke kolam besar. Bisa dibayangkan kalau aku harus mandi dengan air bekas cucian. Emang mandi di sungai
Habis mandi biasanya kita mampir di warung dekat situ. Makan lontong sayur dan minum teh telur. Hmm nyam...nyam...
Kalau dulu-dulu kita suka beli bika (camilan dari campuran tepung beras dan kelapa yang dibakar) juga, cuma sekarang udah jarang yang jual.
Lebaran kemarin tradisi ini gak aku alami. Aku pulang lebaran cuma 5 hari. Nginap semalam di Solok dan lainnya tentu saja di Bukittinggi. Saudara-saudaraku masih ke Aia Angek sih, tapi itu setelah aku balik ke Jakarta. Padahal libur lebaran kemarin lama, cuti bersama diperpanjang. Cuma aku sudah terlanjur pesan tiket Jakarta-Padang pp sejak jauh-jauh hari. Sedangkan untuk menggeser tanggal keberangkatan mahal banget.. Terpaksa deh balik ke Jakarta hari Selasa, padahal masuk kantor baru Senin depannya