Blog EntryAku ingin ke sana...Nov 11, '08 10:38 AM
for everyone
Ahad kemarin, seperti biasa aku ada acara pekanan. Waktu 'ibu'ku menyalakan laptopnya, wallpapernya foto masjidil haram. Lengkap dengan tulisan: Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik Laa Syariika Laka Labbaik. Innalhamda Wannimata Laka walmulk Laa Syariika Lak dalam tulisan Arab. Huaaaa, pengen ke sana.

Tiga tahun terakhir waktu kantorku masih di Pondok Gede, minimal setahun sekali motivasiku ke tanah suci meningkat. Rute ke kantor yang melalui asrama haji Pondok Gede memungkinkanku selalu bertemu rombongan jamaah calon haji yang akan berangkat. Membuat doaku bertambah kuat, semoga Allah mengizinkanku ke sana. Kalo ketemu rombongan ini, aku gak pernah ngeluh walau angkot yang kutumpangi harus ngantri

Aku pernah berhitung, kalo sebulan nabung 300 ribu saja, 10 tahun lagi tabunganku cukup untuk naik haji. Itu dengan tidak memperhitungkan inflasi dan teman2nya, gak ngerti soalnya Yaa kalau ongkosnya melonjak jauh, semoga ditambah 2 atau 3 tahun berikutnya sudah cukup. Hmm... lamanya. Itu juga kalau aku disiplin setiap bulan dan dana yang mau disimpan selalu ada

Itukan hitung2an secara matematika, sedangkan rezeki itu rahasia Allah. Allah mendatangkan rezeki dari pintu yang tidak kita duga-duga.
Temanku pernah cerita, ada seorang ummahat menengok istri kenalan suaminya yang sedang sakit. Ternyata ibu yang sakit ini ingin menunaikan ibadah haji, tapi tidak ada keluarga yang bisa mendampingi. Beliau menawari si ummahat untuk menemaninya ke tanah suci. Subhanallah... rezeki silaturahmi.


Blog EntryJakarta... balik lagi nihOct 20, '08 12:01 AM
for everyone
Pulang ke Bukittinggi. Setelahnya kembali ke Jakarta.
Istilah pulang dan kembali ini sempat bikin aku dan seorang teman di kantor salah paham. Dia tanya aku pulang naik apa, kujawablah naik bus. Terus dia bilang, "Kalo gitu aku ikut tanteku aja ya ke Padang, terus pulangnya bareng uni naik bus. Kalo sendiri aku gak berani." Aku bingung dan bilang, "Aku pulang naik bus dan kembalinya naik pesawat." "Iya, kita pulangnya bareng naik bus," katanya keukeuh Ini terjadi karena pulang versi dia adalah balik ke Jakarta, sedang pulang versi aku balik ke Bukittinggi. Orangtuaku di Bukittinggi, pulang, rumah bagiku tetap Bukittinggi. Sedangkan rumah n pulang bagi dia adalah Jakarta karena orangtuanya di sana
Aku balik ke Jakarta Selasa tgl 7 okt naik pesawat jam 17.45. Karena aku berangkat sore, keluargaku berpikir kita rame2 aja ke Padang, jalan2.sambil ngantar aku. Maklum kita belum jalan ke Padang. Jadilah aku n adikku tidak pesan travel utk ke Padang. Tapi Allah berencana lain, hari itu tanteku masuk rumah sakit, jadi aku gak mungkin diantar ke Padang. Ada hal lain yg lebih penting n urgen diurus ketimbang ngantar aku ke bandara. Jam 11 terbirit2lah aku, adik, sepupu, papa mencari tiket travel ke Padang. Ternyata hari itu Padang masih jadi favorit org Bukittinggi, semua travel penuh, bus umum juga rebutan. Kalopun ada travel, itu utk keberangkatan jam 2 dan mereka tdk berani jam segitu bawa penumpang ke bandara. "Macet, takut telat," katanya. Setelah berbagai pertimbangan, plus minus tetap diantar ato naik taksi, diputuskan naik taksi. Karena kalo memang macet mereka pasti lebih ngerti rute mana yg mungkin bisa diambil. Tapi yg gak kuat bayarnya, 350 ribu Aku gak tau tarif bukan lebaran itu berapa, tapi ini jauh di atas harga normal. Berangkat dari rumah jam 13.30, sopirnya masuk jalan2 kecil utk menghindari macet, begitu ada kesempatan langsung ngebut. Aduh!!! serem. Dia ternyata takut telat sampai bandara karena kemarinnya Bukittinggi-Padang 7 jam!! Padahal normalnya 2 jam saja. Alhamdulillah tidak macet, cuma agak padat, jam 4 sudah sampai di bandara. Tapi... lupa bawa makanan saking 'hebohnya' sebelumnya berangkat.
Sampai di rumah hampir jam 10 malam, capek, lapar...

Blog EntryRoad to BukittinggiOct 10, '08 12:13 PM
for everyone
Udah hampir sebulan perjalanan pulang ke Bukittinggi, tapi rencana posting mengenai ini tertunda terus.
Aku berangkat hari Sabtu tgl 27 Sept, pke bus. Akhirnya naik bus lagi setelah 4 tahun. Karena ngambil tiket bus SE, aku sudah membayangkan kondisi bus yang nyaman, kursi yg besar, jarak antarbangku lapang, bantal, selimut, tv. Ternyata bus SE sekarang beda dg dulu. Sebenarnya dulu juga gak pernah naik bus SE, tapi setidaknya aku tau fasilitasnya Kursinya tetap lapang, lega, tapi jarak antarbangku dipersempit karena pihak bus menambah  2 baris bangku lagi (biar muat lebih banyak penumpang). Tetap ada selimut n bantal, AC ok, tapi no tv. Sayangnya kunci kursiku macet. Kalau aku dorong ke belakang, itu gak kekunc, Lama-kelamaan akan maju dg sendirinya. Sandarannya tegak lagi deh Adikku bilang, aku kekurangan berat badan buat nahan sandarannya. Soalnya kalo yg duduk rada berat, sandarannya tetap rebah
Jadwal bus berangkat jam 11, harus lapor jam 10. Jam 9.15 berangkat dari rumah, Matraman-Rawamangun kan dekat. Karena semenjak ada Busway, di Pramuka gak bisa putar balik lagi, biasanya mobil putar balik di gang Kelor. Sopir taksi udah pada tau, jadi kita gak ngingetin lagi. Tapi begitu sampai di gang Kelor, bablas, dia lurus aja. Aku pikir bakal lewat stasiun Jatinegara. Eh gak juga. Malah ke arah Kampung Melayu, masuk Rawabunga, tembus2 di Bypass. Sungguh pilihan rute yg gak lazim, bayarnya jadi 2x lipat .
Jam 11 kurang bus udah jalan dari Rawamangun, mampir ke pull-nya dulu. Dari sana berangkat menjelang jam 12. Jam setengah tiga udah masuk pelabuhan Merak. Karena hari itu waktu mudik yg dipilih banyak orang, jadilah ramai sekali. Baru dapat kapal buat nyebrang pas adzan maghrib. Untung ferinya bagus, baru renovasi kayaknya, besar pula. Di lantai paling atas ada mushalla. Ini biasa dan pasti ada di setiap feri. Waktu Isya masuk, adzan dikumandangkan lewat pengeras suara, terus shalat berjamaah. Ini agak biasa Gak banyak kapal yg menyelenggarakan shalat berjamaah, biasanya antarpenumpang saja. Ternyata adzan maghrib yg kami dengar tadi berasal dari kapal, kirain dari pelabuhan. Eh, setelahnya ada shalat tarawih berjamaah!!! Ini baru pertama kali aku alami. Waktu masih kuliah dan selalu naik feri, gak pernah nemu yg begini. Alhamdulillah, perjalanan jadi berasa lebih nyaman n aman.
Ngantri di Merak (plus 1 jam di laut) cukup mengganggu jadwal bus. Jadinya kami baru berhenti lagi jam 12 malam. Makan buka puasa sekalian sahur. Alhamdulillah perjalanan setelah itu lancar, tapi suka berhenti sih, nungguin teman2nya bikin konvoi. Alhasil sampai di Bukittinggi Senin dinihari jam 3.

Aku kena timpukan berantai nih dari teh Marina. Menurut si teteh, aturan timpuk-menimpuknya seperti ini.

1. Tulisan harus berjudul Mencari Sahabat Lama
2. Tuliskan 7 sahabat yang sedang kita cari.
3. Sertakan identitas sahabat yang sedang dicari itu (Seperti asal Daerah, Sekolah, dll)
4. Tuliskan 7 MP-ers yang harus membuat postingan seperti ini. 
5. Selain itu, untuk 7 MP-ers pengintip pertama juga berkewajiban untuk membuat postingan serupa.
6. Tuliskan aturan ini di awal tulisan.
7. Harus dikerjakan dalam waktu maksimal 7x24 jam sejak dibaca postingan ini!

Aku juga harus nimpuk kontakku yang lain. Susahnya, kontakku terbatas, sebagian pun sudah ditimpuk teh Marin, gak mungkin ditimpuk dua kali. Kasiankan? :D Sebagian lainnya gak rutin buka MP. Jadi, yang terpilih adalah

  1. Asma S.
  2. Kiki
  3. Dini
  4. Riza
  5. Rahma
  6. Ranti

Maunya sih tadi nimpuk Hayyu juga, tapi dia lagi cuti, bisa dua bulan lagi postinganku dibaca 

 
‘Timpukan’ teh Marin membuat aku memutar ulang memori di benakku. Siapa saja teman dan sahabat yang menghilang dari hari-hariku. Awalnya cukup sulit mengingat-ingat. Entah karena aku gak punya sahabat (oh no!!!), jarang kehilangan sahabat, ato karena hilangnya sudah lama sekali, sampai aku gak sadar pernah punya mereka sebagai sahabatku. Aduh… syukurlah bukan yang terakhir ini karena aku tidak setidak peduli itu pada sahabatku. Setelah di-list, ternyata memenuhi kuota  temanku yang aku tidak tau kabarnya saat ini.

Sekarang aku pengen berbagi cerita tentang sahabat yang telah hilang itu, sahabat yang ingin kutemukan lagi. Mungkin saja ada teman2 yang kenal dengan mereka supaya aku bisa ketemu mereka lagi, minimal bisa bertukar kabar

 
1.  Popi

Ini sahabatku waktu SD. Karena rumah kita searah, biasanya aku pulang bareng sekolah bareng dia. Pas kelas 6 SD dia pindah ke Jakarta ikut tantenya. Popi tinggal di Bukittinggi dengan neneknya, orang tuanya di Pekanbaru. Waktu dia baru pindah, aku masih suka tanya kabarnya pada adiknya yang masih di SD yang sama. Setelah lulus SD, aku tidak pernah ketemu adiknya lagi. Neneknya pun, kalau gak salah pas aku SMP, pindah ke Pekanbaru. Hilanglah jejak Popi

 
2.  Revi

Sebenarnya ini bukan teman, tapi kakak. Dulu orang-orang suka bilang, ni Revi-nya Liza. Dia tetangga sebelah rumahku, teman mainku. Kami sekolah di SD yang sama, ni Revi satu tahun di atasku. Karena kedua orang tuaku kerja, kakakku pulang sekolahnya lebih siang, waktu kelas 1 SD aku selalu pulang sekolah dengan ni Revi. Kalo ni Revi lagi jadi anak ‘nakal’, pulang sekolah gak langsung pulang, tapi main dulu, aku pasti ikut dia pergi main karena belum bisa pulang sendiri. Tiga bulan menjelang kenaikan kelas, aku pindah rumah. Jadi deh gak berangkat dan pergi bareng ni Revi lagi. Tapi karena aku dan sodara2ku besar di tempat tinggal kami yg dulu itu, kami masih sering main ke sana, ketemu teman2 lama. Dua kakak ni Revi juga seusia dengan kakakku. Bedanya, aku punya adik lelaki, ni Revi anak bungsu. Jadinya dari dulu kami selalu main bareng, persahabatan keluarga.

Aku lupa persisnya di kelas berapa, ni Revi sekeluarga pindah ke kampungnya di Talawi. Walau begitu, keluargaku masih sering bertukar kabar dengan keluarganya.
Waktu kakakku yang pertama kuliah di Padang, dia pernah ketemu dengan kakak ni Revi yang pertama. Tapi aku tetap tidak pernah ketemu dengan ni Revi sampai sekarang. Apalagi sekarang komunikasi keluarga kami dengan keluarganya sudah tidak berjalan.

 
3.  Een

Ini teman kuliahku. Sebagian kontakku kenal nih sama dia, tapi kok bisa ya aku kehilangan dia? Een teman kuliah, teman main dari pertama masuk ITB. Kami biasa main berempat ato berlima, tergantung aktivitasnya  Tapi cuma Een yang aku gak tau kabarnya sekarang.

Setelah diwisuda, aku pindah ke Jakarta, Een masih di Bandung. Setelah diwisuda, dia ke Mekah menyusul suaminya yang sedang kuliah di sana. Itu kabar terakhir yang ku tau tentang dia. Harusnya dia sudah lama balik ke Indonesia, ke Bandung atau ke Subang? I don’t know. Karena teman yg sama2 dari Subang dan kuanggap tau kabar Een juga gak punya informasi. Sebenarnya dengan teman2 di kampus, adik maupun kakak angkatanku, aku jarang bertukar kabar. Baru-baru ini saja, karena kasih sayang Allah, multiply mempertemukan kami. Duh… senangnya.

 
4.  Dina

Ini sahabatku yang terbaru hilang, sekitar 2½ tahun lalu. Dia teman ngajiku yang lumayan suka pindah2 kerja. Terakhir dia pindah ke Banda Aceh, dapat tawaran kerja di sana. Pindahnya mendadak, ato dia menyimpannya dari kami teman-temannya. Entahlah… Dia cuma menelponku, bilang mau pindah ke Aceh beberapa hari sebelum berangkat. Terus minta maaf karena gak sempat ketemuan dan kirim salam untuk teman2. lain.
Bulan pertama dia masih suka kirim kabar. Dia juga pernah menyapaku dari nomor lain,  dengan cerobohnya nomor ini terhapus olehku Setelah itu, nomor hp-nya yang aku punya tidak bisa dihubungi. Teman2 lain juga tidak ada yang tau kabarnya karena dia ternyata tidak pernah menghubungi mereka.

 
5.  Feni

Aku bersahabat dengan Feni dari SMP, SMA (walau tidak pernah sekelas di SMA). Aku sempat kuliah di Padang satu tahun, satu jurusan n satu kelas dengan dia. Walau setelah itu aku pindah ke Bandung, kami masih suka ketemu. Pas lebaran saling berkunjung. Waktu aku libur lebaran menjelang lulus kuliah, Feni ke rumahku dengan ransel besarnya Ternyata waktu itu dia mau kembali ke Pekanbaru. Aku baru tau kalo dia ternyata kerja di Pekanbaru. Ibunya juga pindah ke Pekanbaru karena setelah ayahnya meninggal, beliau sendiri di Bukittinggi. Setelah itu aku tidak pernah dengar kabarnya lagi. Aku tidak ingat kenapa waktu itu tidak menyimpan alamatnya. Waktu itu, belum punya hp, jadi ini bukan alternatif berkomunikasi yang bisa dipilih

 
6.  Rina

Dia temanku SMA, Rina sekelas dengan Feni. Waktu aku kuliah di Padang, kami satu kos. Sejak itu kami bersahabat. Setelah aku pindah ke Bandung, kami masih bertukar kabar karena kakak Rina adalah kakak kelasku di matematika. Pas kakaknya wisuda dan Rina ke Bandung kami sempat ketemu. Aku ketemu lagi pas mau kembali ke Jakarta, ternyata aku satu bus dengan mamanya yang mau ke Bandung. Kami pun bertukar nomor telepon. Sama seperti dengan Dina, Rina pun akhirnya tidak bisa dihubungi setelah nomor hp-nya tidak aktif. I miss her.

 
7. Teh Lily

Aku tidak lama berinteraksi dengan teh Lily, hanya satu tahun. Tapi, waktu yang singkat itu sangat berkesan bagiku. Beliau mengajarkan banyak hal pada aku dan teman-teman. Setelah lulus kuliah, teh Lily pindah ke Jakarta, di daerah Lebak Bulus. Aku pindah ke Jakarta lama setelah itu. Beliau masih tinggal di sana gak ya? Pengen banget ketemu.

 
Itulah tujuh sahabatku yang hilang, semoga Allah mengizinkan kami bertemu lagi, menyambung silaturahmi.

Selain sahabat hilang yang ingin kutemui lagi, masih ada sahabat yang tidak hilang, tapi sudah lama tidak kujumpai. Masih telepon2an, sms-an, email2an. Tapi kalo bisa copy darat, alangkah senangnya: Rifka (jauh euy sekarang), Risma & Mira (masih di Jakarta sih), dll … I miss u all



Blog EntryAku ingin Ramadhan-ku ....Sep 1, '08 11:14 AM
for everyone
1 hari Ramadhan sudah berlalu. Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan sampai ke bulan Ramadhan ini. Aku ingin ....
1. melaksanakan ibadah shaum dengan hati yang ikhlas dengan memerhatikan sunnah-sunnahnya. Menghiasi Ramadhan dengan shalat tarawih, memperbanyak tilawah, zikir, doa serta sedekah.
2. meningkatkan kualitas amalan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
3. menjadikan Ramadhan sebagai bulan taubat dengan memperbanyak istighfar dan taubat pada-Nya.
4. menjadikan Ramadhan sebagai bulan pendidikan dan dakwah.
5. mengambil keberkahan Ramadhan semaksimal mungkin.
6. ....
Semoga Ramadhan tahun ini dapat lebih bermakna, lebih berkah, lebih berprestasi. Amiin...




Blog Entry1 emas, 1 perak, dan 3 perungguAug 17, '08 11:38 AM
for everyone
Itulah hasil kontingen Indonesia di Olimpiade Beijing 2008. Tadinya berharap dapat menambah emas dan atau perunggu lagi dari ganda campuran. Ternyata harapan tak seindah kenyataan

Nonton perebutan medali perunggu benar2 bikin deg-degan. Seru banget!! Malah di set ketiga poinnya sangat ketat. Angka nambah satu per satu, gantian terus. Walau akhirnya perjuangan pasangan Indonesia, Flandy Limpele / Vita Marissa tak membuahkan medali. It's ok, kerja keras mereka sangat layak dihargai.
Di pertandingan final, pasangan Indonesia Nova Widianto / Lilyana Natsir gagal menambah emas utk Indonesia. Sedih juga sih, hasil pertandingan hari ini tidak seindah kemarin.

Susah ternyata menjaga rasa optimis itu, dikelilingi orang2 yg sudah patah semangat dan sibuk ngomel gak karuan liat pertandingan Nova/Lilyana . Jadi pengen nutup kuping dan buka mata aja, nonton dan tidak memedulikan orang2 itu. Habis sebel, belum pasti kalah, walau harapan menang tipis, udah ngomel duluan. Buat aku sih biar aja mereka main dulu, kalo akhirnya kalah, ya itulah hasil yg harus diterima. Jangan menghakimi sebelumnya sesuatu terjadi.

Btw heran juga pas nonton pertandingan hari ini. Suporternya rame banget, tepuk tangan dan teriakannya meriah. Beda banget sama kemarin yang adem ayem. Jadi ingat kalo nonton pertandingan di Istora. Pasti full teriakan huu ya

Blog EntryHiduplah Indonesia Raya!!!Aug 16, '08 12:54 PM
for everyone
Ikut deg-degan waktu nonton perebutan medali perunggu tunggal putri Olimpiade Beijing. Begitu pula pas nonton final ganda putra. Alhamdulillah akhirnya Maria Kristin serta Markis Kido dan Hendra Setiawan menang Nambah medali perunggu dan dapat emas pertama akhirnya kontingen Indonesia
Maria main terkesan santai, gak ada beban. Ya iyalah, target masuk 16 besar, tapi berhasil dapat medali perunggu. Kan keren Walau pas match point sempat khawatir juga. Biasanya syndrom match point bikin pertandingan agak alot. Tapi tadi gak pake syndrom 20, langsung menang, lawannya Lu Lan gak sempat nambah angka lagi.
Syndrom match point-nya kejadian pas Markis Kido dan Hendra hampir menang. Udah 20, bola lawan dipikir keluar, Kido&Hendra udah teriak senang, ternyata kata wasit masuk. Setelah itu lawannya Fuyunghai dan Capcai (baca Fu Haifeng dan Cai Yun) masih berhasil nambah beberapa angka lagi. Syukurlah akhirnya Kido&Hendra berhasil menang. Indonesia Raya pun berkumandang
Begitu selesai pertandingan, langsung mulai Dunia Dalam Berita (Acara berita TVRI sejak zaman baheula. Tontonan wajibku dulu, tapi sekarang gak pernah nonton lagi , kecuali tadi). Orang2 di rumah udah ngomel2 tuh, kok TVRI tega gak nyiarin acara pengalungan medali. Biasanyakan pengalungan medali langsung setelah pertandingan. Ternyata panitia butuh waktu beberapa menit utk nyiapin acara itu. Jadinya TVRI mulai berita dulu, begitu acara pengalungan medali dimulai, barulah disiarkan langsung. Efektivitas waktu hehe. Ah negative thinking aja nih sama tv nasional.
Semoga besok ganda campuran  (Nova Widianto / Lilyatna Natsir dan Flandy Limpele / Vita Marisa) bisa nambah medali emas  dan perunggu  lagi. Amiin...
Hiduplah Indonesia Raya!!!


Blog EntryLove Song for Mom & DadAug 14, '08 1:58 AM
for everyone
Beberapa hari ini jadi rajin searching lagu-lagu dengan tema orangtua. Dulu cuma tau Yang Terbaik Bagimu sama Bunda. Ternyata masih banyak yg lain, bagus2 lagi. Kebanyakan lagu2 lama, maklum gak gaul hehe...
Awalnya ada teman yg promosiin lagu Masa Kecil-nya Elfa Singer pada teman yg mau ngelahirin. Apa hubungannya ya? Gak tau deh, ini lagu dari zaman kapan. Terus denger lagu Surga di Telapak Kakimu pny Gita Gutawa. Pas nyetel di kompi rumah, sodaraku promosi lagu Just for Mom pny SO7 (gak pernah denger lagu ini sebelumnya) sama Mama-nya Spice Girl (apalagi lagu ini, gak kenal sama sekali). Tapi pas dapat liriknya bagus juga.
Kok yg ada kebanyakan tentang ibu? Tapi akhirnya ketemu lagu Papa. Ini lagu baru, yg nyanyi anak2.
Yg belum ketemu, nasyid dengan tema ini, tapi yg gak terlalu mendayu2
Aduh... jadi kangen pulang nih...

Papa
Kiki  idola cilik


Terangnya hidup didunia
Karena sinar kasihmu papa
Biar duka menyelimuti kita
Kau selalu hadirkan bahagia

Apapun keadaanmu
Bagiku kau bagaikan raja
Pelindungku dari semua badai
Siang malam kau hangatkan aku

Reff:
Bila Tuhan izinkan aku bicara
Ku bersaksi tak akan pernah menyesal
Punya dia yang terhebat
Hanyalah dia

Bila Tuhan izinkan aku meminta
Hanya ada satu pintaku yang suci
Ku bernafas hanya untuk dia bahagia
Ho ho papa
Papa

Apapun keadaanmu
Bagiku kau bagaikan raja
Pelindungku dari semua badai
Siang malam kau hangatkan aku


Surga di Telapak Kakimu

Gita Gutawa

 
Kunyanyikan semua lagu
Untukmu Ibu
sebagai wujud terimakasih
Ku kepadamu
Tanpa lelah kau berjuang
Membesarkanku
Berikan yang terbaik untukku

 

Izinkanlah tanganmu kucium
Dan kubersujud dipangkuanmu
Temukan kedamaian
Dihangat pelukmu

 

Di dalam hati kuyakin
Serta percaya
ada kekuatan doa yang engkau titipkan
Lewat Tuhan
Membuat semangat bila diri ini rapuh
Dan tiada berdaya

 

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

 

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

 

Kasih sayangmu begitu tulus
Kau cahaya dihidupku
Tiada seorang pun yang dapat menggantimu

 

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

 

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

 

Uuuuu huuu uuuuu

 

Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga





Blog EntryWaktuAug 5, '08 11:31 PM
for everyone

Kok gak terasa ya? Rasanya belum begitu lama aku pindah ke Jakarta. Aku gak bilang, rasanya baru kemarin, terlalu didramatisir  Waktu itu adik sepupuku masih SD, sekarang dia udah mau kuliah, lagi sibuk daftar ulang di kampus barunya.

Bertahun-tahun berlalu berlalu. Apa yang berubah dalam rentang waktu itu? Apa yang terjadi dalam rentang waktu itu? Bekal apa yang sudah aku kumpulkan selama itu? Seberapa banyak tabunganku. Tabungan untuk hidup di dunia yang unpredictable ini, apalagi untuk di akhirat yang kekal nanti. Koleksi berlian sudah sebanyak apa (emang ada?!) Rekeningnya sudah seberapa gemuk? Apa saja amal nyata yang sudah kulakukan? Seberapa bermanfaatnya aku bagi orang-orang di sekitarku? Sudahkah membahagiakan orang tua dan orang-orang terdekat? Bagaimana kualitas dan kuantitas amalanku?

Intinya, adakah waktu yang berlalu ini aku manfaatkan dengan baik? Karena  waktu sangat istimewa dan berharga. Ia cepat berlalu dan tak pernah kembali. Saatnya untuk  muhasabah nih. Muhasabahkan tidak harus nunggu ulang tahun, tahun baru, ramadhan, dan idul fitri. Bisa dan harus dilakukan setiap saat. Muhasabah diri bahan untuk memperbaiki diri.


Blog EntryArah KiblatkuAug 3, '08 12:58 AM
for everyone

Arah kiblat mushalla kantorku berubah!! Ternyata arah yang dipake selama ini salah. Arah kiblatnya bukan hanya bergeser, tapi pindah! Bedanya lebih dari 45 derajat. Parah banget deh. Jadi hampir 3 tahun ini, dhuha, zuhur, asharku (klo lagi sibuk bisa sampai isya) menghadap ke mana ya?

Pas baru-baru pindah kerja aku sempat ‘kagum’ sama bangunan kantor. Kok arah kiblatnya pas banget dengan arah gedung, gak ada miring-miringnya. Pemanfaatan ruangan di mushalla jadi efektif sekali. Sempat ingin bawa kompas buat mastiin. Tapi akhirnya ide itu terlupakan begitu saja. Duh... kelalaianku

Waktu itu ada tamu yang datang dan ikut shalat di mushalla. Beliau menyatakan keheranannya dengan arah kiblat yg pas banget dengan arah gedung. Kan jarang2 ada yg begini. “Apa gak keliru nentuin arah kiblatnya,” kata beliau. Pernyataan ini membuat orang kantor jadi mikir juga. Dicarilah kompas, diukur dan dihitunglah arah kiblat. Ternyata, meleset jauh sekali, saudara!!!

Duh... jadi berandai-andai, astaghfirullah. Coba dulu aku jadi bawa kompas. Atau setidaknya menyatakan keherananku karena sebagian teman2 pas baru masuk juga ngerasa ‘heran’ dengan arah kiblat. Tapi gak satu pun yg ngobrol, herannya dirasa sendiri aja. Jadilah kekeliruan ini berlangsung lama.

Setelah kejadian itu jadi pengen tau gimana cara menentukan arah kiblat. Gimana cara teman2 menentukan arah kiblat mushalla yang tepat. Caranya sederhana saja ternyata. Dari berbagai sumber, diperoleh arah kota Mekah dari Jakarta (pinggirannya dianggap Jakarta saja ) 295,1°. Sejujurnya, aku gak ingat angka persisnya berapa, sekitar itulah. Maklum narasumbernya lagi pergi Arah ini merupakan patokan arah kiblat. Arah ini juga dapat diperoleh dengan mengukur langsung pada peta. Arah yang dimaksud di sini jurusan tiga angka Mekah dari Jakarta (ah jadi ingat pelajaran matematika SMP ), jadi 25,1 ke arah utara dari barat. Tapi, karena arah utara bumi dan arah utara yang ditunjuk kompas (utara magnet) tidak berimpit, ka’bah tidak terletak pada arah 295,1° yang ditunjuk oleh kompas. Berdasarkan pengetahuan yg didapat dari pelajaran fisika (hmm pelajaran lagi ), selisih antara utara bumi dan utara magnet bumi 11,5°. Selisih ini berbeda di tiap daerah. Di Jakarta ya kira2 segitu. Nah, 295,1° – 11,5° = 283,6°. Inilah arah kiblat mushalla kantorku.

Sebenarnya arah kiblat bisa ditentukan langsung tanpa kompas. Ini dapat dilakukan pada saat matahari tepat berada di atas kota Mekah (bagi kota yang yang beda waktunya dengan Mekah kurang dari 5 jam). Ini disebut Istiwa Utama atau Istiwa Azam. Terjadinya 2 kali setahun, yaitu setiap tanggal 28 Mei pukul 16.18 WIB dan tanggal 16 Juli pukul 16.27 WIB. Pada tahun kabisat, seperti tahun ini, matahari berada di atas Mekah maju sehari, yaitu tanggal 27 Mei dan 15 Juli. Pada tanggal itu (termasuk H-2 dan H+2 serta ±5 menit), semua bayangan benda yang tegak lurus di permukaan bumi mengarah ke Mekah, ke ka’bah. Jadi, dapat dipakai untuk menunjukkan arah kiblat, mengecek ketepatan arah kiblat kita selama ini.


Blog EntryTimbangan BilanganJul 2, '08 1:16 AM
for everyone
Ceritanya aku dan 2 teman diminta bikin materi cd pembelajaran matematika tentang diagram lingkaran, diagram batang, dan timbangan bilangan. Dua teman dengan sangat baik hati membagi materi diagram lingkaran dan batang untuk mereka, serta menyisakan timbangan bilangan untukku. Alasannya, menurut mereka, aku lebih familiar dengan materi untuk anak sd dibanding mereka. Maksud lo?!

Jelas aku bingung. Timbangan Bilangan, apaan tuh? Gak pernah dengar. Setelah mencari lewat 'mbah' google, akhirnya aku tau, itu alat peraga untuk belajar matematika. Bisa untuk menjumlah, mengurang, mengali, dan membagi. Ternyata bisa buat membandingkan besar bilangan juga. Kayak timbangan biasa, yang lebih besar/berat itu yang lengannya di bawah. Ingat pelajaran sd kan?

Begitu dapat alatnya, seorang teman yang liat langsung asyik menggantung anak-anak timbangannya. Asal digantung aja, pokoknya lengannya setimbang. Walau alatnya sederhana, tapi ngitungnya benar tuh. Ya iyalah, gak mungkin orang bikin alat ngasal, bisa menyesatkan generasi penerus bangsa
.

Pertama ngetes, aku mo ngitung 5 + 3. Cara pakai alatnya, gantungkan anak timbangan di angka 5 dan 3 pada lengan kiri. Terus tentukan tempat menggantungkan satu anak timbangan lagi di lengan sebelah kanan. Posisi anak timbangan yang membuat lengan timbangan setimbang, itulah hasil penjumlahannya.

Ah ribet, pikirku. Itukan menurut aku (kita) yang udah tau hasilnya. Tapi bagus untuk anak-anak, mereka bisa bermain sambil belajar. Kan kata pakar pendidikan anak , pelajaran (matematika) harus didekatkan dengan kondisi sehari-hari. Untuk mendapatkan bahwa 5 + 3 = 8, mereka perlu menemukan sendiri, dengan pengalaman sendiri, jadi bukan dari menghafal.



Blog EntryAkhirnya Sariawan itu PergiJul 1, '08 5:46 AM
for everyone
Nikmat sehat memang terasa pas kita sakit.
Alhamdulillah, setelah 5 hari yang menyiksa sariawanku sembuh. Benar-benar 5 hari yg bikin capek. Perih, susah makan, n susah ngomong. Sampai-sampai kata teman kantor, aku sekarang pendiam. Maunya sih tetap banyak ngomong, tapi perihnya ituuu gak nahan Mungkin memang saatnya lebih banyak mendengar, secara kuping kita lebih banyak daripada mulut.
Sariawannya persis di ujung lidah, di 3 tempat lagi. Macam-macam obat dicobain, obat panas dalam n sariawan. Dari enkasari, adem sari, obat tetes, sampai albothyl yg pas dipasang perihnya ampun-ampunan. Temanku nyaranin ke dokter, tapi kok kayaknya aneh ya sariawan aja pke ke dokter.
Pertama berasa pas lagi makan, kok tenggorokanku sakit, kayak ditusuk-tusuk gitu. Karena habis demam, jadi mikir, sebenarnya sakit apa sih kok tenggorokannya gak enak gini, udah serem duluan tuh. Hehe telat banget ya connect ke sariawannya. Begitu ujung lidah 'luka-luka' baru dong. Makanya sembuhnya lama karena udah keburu parah. Udah gitu sempat makan sate padang pula walau dengan susah payah. Kan katanya cabe itu vitamin C-nya tinggi jadi sebenarnya gak pa pa buat yang sariawan. Padahal tetap aja bikin sariawannya gak sembuh-sembuh
Habis itu jadi tertib deh gak makan yg pedas lagi. Tapi itu cuma bertahan sebentar. Karena pas udah sembuh, di hari ke-6 di rumah ada lauk itik cabe hijau. Diembat juga  Soalnya menu ini jarang ada, secara di sini susah nyari itiknya. Untungnya setelah itu sariawanku gak kambuh.


Blog EntryMengapa kita hanya berhenti di niat?May 31, '08 11:59 AM
for everyone

Segala perilaku kita adalah format kehendak kita. Demikianlah kita menjalani hidup. Begitu juga dalam melakoni agama kita. Amal shalih perilakunya, sedang niat yang ikhlas adalah kehendaknya. Amal shalih tanpa ikhlasnya niat akan sia-sia. Sebagaimana niat baik tanpa wujud amal hanya omong kosong belaka. Karenanya, tuntutan beramal shalih sama besarnya dengan tuntutan berkehendak.

Tapi kehendak dan niatan-niatan itu tak selamanya segar. Kadang layu, bahkan mati. Itu sebabnya, inisiatif yang berkesinambungan menjadi syarat mutlak bagi kesegaran niatan-niatan dan amal shalih itu.

(dicuplik dari salah satu edisi majalah Tarbawi tahun 2001 (kalo gak salah) dengan tema Waspadai Matinya Inisiatif Beramal)

Kita sudah niat mau bangun di sepertiga malam, mo Qiyamul Lail. Alarm bunyi, diliat, pencet tombol turn off. Pulas lagi. Bangun-bangun adzan subuh. Itu masih bagus, kadang bablas sampai jam 5. Kalo masih ingat niat semalam, pencetnya Snooze , alarm akan bunyi 9 menit lagi. Bunyi lagi, snooze lagi, baru sadar kalo sudah adzan subuh. Kenapa susah sekali untuk bangun? Tidur kemalaman, kecapeankah? Mungkin kecapean, tapikan gak tiap hari juga kita kecapean. Tidur kemalaman pun tidak pantas dijadikan alasan. Ada kok yang cuma tidur 3 jam, tapi bisa bangun untuk shalat malam. Kenapa? Karena niatnya, tekadnya kuat untuk bangun. Kalo tekadnya kuat, sebelum alarm bunyi pun udah bangun, jadi alarmnya yang kesiangan Tapi mengapa kejadian itu begitu 'langka'? Mungkin seperti topik di tarbawi tadi, niat kita sudah layu, inisiatif beramal sudah mati, jadinya hanya omong kosong. Astaghfirullah al azhim.

Begitu juga tilawah. Habis subuh tilawahnya dikit, alasannya pagi-pagi repot, terburu-buru ke kantor. Zuhur, ashar lagi di kantor, susah cari waktunya. Maghrib, baru sampai rumah, laper, habis shalat langsung makan, lupa tilawah. Ba'da isya, godaannya lebih banyak lagi. Padahal habis subuh kalau menyediakan waktu 1/2 jam saja, dapet tuh 1/2 juz. Zuhur, ashar bolehlah absen. Hmm... pembelaan diri. Tapi masa sih istirahat sejam cuma buat shalat, makan, ngobrol, nge-game, online (eh itu udah banyak ya aktivitasnya) Tapi kalo diniatin bisa kok baca selembar, sehalaman. Habis maghrib baca 1-2 lembar gak bakal bikin cacingnya ngamuk. Habis isya, jangan langsung nangkring depan tv nontonin acara yang gak jelas, nangkring depan komputer, baca buku, tapi qurannya bisa dibaca dulu.

Berarti peluang beramal sebenarnya banyak. Dari sekian banyak kesempatan yang ada, mana yang kita manfaatkan untuk menambah amalan? Kenapa bulan Ramadhan amalan kita bisa (sangat) bagus? Karena setannya dirantai? Yang merantaikan amalan kita sendiri, jadi mengapa tidak kita rantai setan itu setiap hari sehingga kita bisa melaksanakan niat baik yang sudah dicetuskan. Yuk...


Blog EntryPagi yang MelelahkanMay 29, '08 12:15 AM
for everyone

Semuanya berawal dari Bank Permata yang memindahkan mesin atm-nya dari Plaza Pondok Gede. Jadinya sepanjang perjalananku berangkat dan pulang kerja gak ketemu atm Permata sama sekali

Pagi ini rencananya mau berangkat lebih awal jam 6.15, mo ke atm dulu, transfer uang pendaftaran training. Seperti biasanya pagi-pagi mondar-mandir gak karuan, aku baru berhasil berangkat setengah tujuh. Jalan ke halte bus, busnya datang, naik, sampai di Arion, masuk ke ruang atm, transfer uang, keluar, jalan lagi ke halte. Masih lancar Itu udah jam 7. Tunggu-ditunggu, bus P98 incaranku belum datang juga. Ke by pass dulu aja, pikirku, biar bisa naik P9 juga (bus langganan). Akhirnya aku naik P64 karena dia yg duluan lewat. Alamak!!! Jalannya layak keong, lelet banget. Aku sebel sendiri. Setelah perjalanan yang lamaaaa sekali, akhirnya sampai di perempatan Pramuka-Pemuda, aku turun terus nunggu P9 atau P98, mana yang duluan aja, gak milih-milih nih. Itu udah jam 7.25. Masalah bmasih berlanjut, kedua bus itu gak ada juga. Setelah berkali-kali lampu merah dan hijau di Pramuka menyala, aku melihat P9 datang. Alhamdulillah bisa berangkat nih. Itu pikiranku. Ternyata busnya masuk jalur busway yang belum digunakan. Aku melambai-lambaikan tangan menyetop bus, kondekturnya malah suruh aku ikut yang belakang. Berarti ada 2 bus dekatan. Aku liat bus berikutnya datang dari arah Pramuka. Tapi... ini pun lewat jalur busway. Wah busnya kejar-kejaran nih, berebut duluan nyampe Pinang Ranti. Aku cuma bisa melihat bus melaju dan kondekturnya yang melihatku cuma tertawa karena dengan posisi itu busnya memang sulit berhenti, dan aku pun gak mungkin nyebrang, lalu lintas lagi ramai. Catatan: kondektur bus P9 bisa hafal dengan penumpangnya karena pagi hari penumpang arah Pondok Gede gak banyak, dan itu-itu aja. Saat itu aku gak berani liat jam, ini sudah pukul berapa.

Gak mau ditinggal bus lagi, aku memutuskan jalan kaki ke halte Utan Kayu. Nunggu bus di halte memang lebih aman. Naik P9 sangat gak mungkin karena bus berikutnya pasti lamaaaaa sekali. P98 masih ada harapan, cuma gak tau lewatnya kapan. Aku berpikir naik bus ke UKI aja, lebih pasti walau lebih lama. Bus 57 berhenti di halte, di lampu merah Utan Kayu ada bus lagi, cuma aku gak bisa liat nomornya. Pas ditanya sama kondektur 57 katanya P98, syukurlah. Aku gak perlu ke UKI. Tiba-tiba kondekturnya ngeralat, itu P17A katanya. Naiklah aku ke 57, tapi dengan separuh hati. Setelah duduk, aku berdiri lagi dan ngeliat ke belakang, lampu hijau menyala, bus yang di belakang mendekat, P98!!!! Alhamdulillah. Aku langsung turun dari 57 dan naik P98. Itu jam 7.55. Begitu bus sampai Garuda, aku turun. Kok macet?!?! Aku jalan kaki dan baru naik angkot pas kulihat kendaraan di situ mulai melaju, bukan merambat. Syukurlah macetnya cuma sampai rumah sakit haji, setelah itu bablas, supirnya pun ngebut. Demi memperkecil keterlambatan, sampai di pasar Pondok Gede aku nyambung naik ojek. Dan berhasil sampai di kantor jam 8.30, parahkan dengan jam kantor yang jam 8.00. dapat surat tilang deh


Blog EntryAia Angek Bukik KiliMay 24, '08 3:29 AM
for everyone

Libur di awal minggu ini aku nemenin teman ke kolam renang khusus muslimah di Gudang Peluru. Benar-benar cuma nemenin, karena yang lain nyebur, aku cuma nonton dari pinggir kolam. “Nonton pesut berenang,” kataku pada teman-teman. Aku malas saja ikutan main air (cuma main air karena aku gak bisa berenang). Tapi senang pergi bareng-bareng, lumayan untuk suasana baru dan obat stres setelah proyek 3 bulan kemarin.

Jadi ingat kalau pulang kampung dan nginap di rumah nenek di Solok. Biasanya kalau nginap di Solok, kami suka ke pemandian air panas (kami menyebutnya Aia Angek) di Bukik Kili, Koto Baru, sekitar ½ jam dari kota Solok arah ke Padang. Itu pemandian air panas di perkampungan penduduk, berupa kolam besar tertutup yang dikelilingi perbukitan. Tempat mandi laki dan perempuan tentu terpisah. Ada juga kamar-kamar mandinya, tapi aku tidak pernah tertarik untuk memakainya. Di kolam itu juga ada pancuran yang panas airnya berasa. Kalau ke Ciater paling aku cuma bisa basuh-basuh kali dan tangan, gak bisa berendam. Karena aku gak suka berendam di kamar mandinya, kecil, gak puas! Beda dengan di Bukik Kili ini, bisa berendam sepuasnya, save!!!

Biasanya kami berangkat habis subuh, jam ½ 6-an, ini bukan subuh yang kesiangan, tapi subuh di sana memang jam 5. Kalau ibu-ibu yang ke situ, selain mandi mereka juga nyambi nyuci. Selain kolam yang besar juga ada 1 kolam yang jauh lebih kecil. Aku gak pernah tau kolam itu sebenarnya untuk apa, yang aku tau kolam itu sering dipakai ibu-ibu untuk mencuci pakaian. Kalau cuma pakaian yang dipakai, terus habis mandi dicuci itu masih masuk akal. Aku pernah melihat ibu-ibu bawa cucian dari rumah ke sana. Gak usah jauh-jauh, tanteku satu di antara ibu-ibu itu hehe. Kalo digodain tanteku bilang, tanggung kalau cuma nyuci dikit. Untung air dari kolam kecil tidak mengalir ke kolam besar. Bisa dibayangkan kalau aku harus mandi dengan air bekas cucian. Emang mandi di sungai

Habis mandi biasanya kita mampir di warung dekat situ. Makan lontong sayur dan minum teh telur. Hmm nyam...nyam... Kalau dulu-dulu kita suka beli bika (camilan dari campuran tepung beras dan kelapa yang dibakar) juga, cuma sekarang udah jarang yang jual.

Lebaran kemarin tradisi ini gak aku alami. Aku pulang lebaran cuma 5 hari. Nginap semalam di Solok dan lainnya tentu saja di Bukittinggi. Saudara-saudaraku masih ke Aia Angek sih, tapi itu setelah aku balik ke Jakarta. Padahal libur lebaran kemarin lama, cuti bersama diperpanjang. Cuma aku sudah terlanjur pesan tiket Jakarta-Padang pp sejak jauh-jauh hari. Sedangkan untuk menggeser tanggal keberangkatan mahal banget.. Terpaksa deh balik ke Jakarta hari Selasa, padahal masuk kantor baru Senin depannya

Blog EntryUmar bin Abdul AzizMay 24, '08 3:22 AM
for everyone
Beliau seorang tabiin terhormat, khalifah ke-8 dari Bani Umayyah yang berkuasa 717-720 M. Ia digelari Khulafaur Rasyidin ke-5 karena memerintah sesuai dengan sistem Khulafaur Rasyidin.

Umar bin Abdul Aziz lahir di Halwan, Mesir tahun 61 H / 682 M. Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abi Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdisyams bin Abdimanaf bin Qushay bin Kilab. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab yang nantinya dikenal dengan nama Ummi Ashim. Jadi, Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah dan khalifah ke-2 kaum muslimin.

Kelahiran Umar bin Abdul Aziz tidak lepas dari kebiasaan Khalifah Umar berjalan-jalan berkeliling negeri di malam hari untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya. Pada suatu malam ia mendengar dialog seorang ibu penjual susu yang miskin dengan anak perempuannya. Si ibu meminta anaknya menambahkan air pada susu yang mereka jual supaya penghasilan mereka bertambah. Anaknya menolak karena Amirul Mukminin (khalifah) telah melarang mereka berbuat demikian, meskipun khalifah tidak melihat perbuatan mereka, tetapi Tuhannya khalifah melihatnya. Khalifah Umar sangat terkesan dengan kemuliaan hati anak perempuan tersebut. Ia pulang ke rumah dan menyuruh anak lelakinya, Ashim, menikahi gadis itu. Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam.” Dari pernikahan mereka lahir anak perempuan bernama Laila. Setelah dewasa Laila menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan dan memiliki anak bernama Umar. Dalam suatu mimpinya jauh sebelum kelahiran Umar bin Abdul Aziz, Umar bin Khattab melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dia memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya. Saat Umar meninggal, cerita ini terpendam di antara keluarganya saja.

Saat Umar bin Abdul Aziz lahir, ayahnya adalah Gubernur Mesir di era Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana yang mewah. Ia pernah mendapat kecelakaan, tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek. Semua orang panik dan menangis, tetapi ayahnya tersenyum. Sambil mengobati luka Umar, Abdul Malik berkata, “Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insya Allah terwujud, dialah anak keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.”

Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu dan telah menghafal Al Quran sejak masih kecil. Ia selalu berada dalam majelis ilmu bersama ahli fikih dan ulama. Kemudian ia meminta ayahnya untuk membawanya ke Madinah agar dapat belajar banyak dengan para ahli fikih dan menyelami perilaku mereka. Ia dibesarkan di Madinah di bawah bimbingan Abdullah bin Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak, dan berguru dengan beberapa tokoh terkemuka seperti Imam Malik bin Anas, Urwah bin Zubair, Yusuf bin Abdullah. Umar bin Abdul Aziz terkenal di Madinah dengan kecerdasan dan kedalam ilmunya walaupun ia masih sangat muda. Ia tinggal di Madinah sampai ayahnya meninggal. Setelah itu ia dipanggil ke Damaskus oleh  Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk diasuh bersam puteranya yang lain. Kemudian Khalifah menikahkannya dengan puterinya, Fatimah.

Ketika Al Walid I (Al Walid bin Abdul Malik) menjabat khalifah, Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah tahun 706 M. Ia menjabat tahun 86–93 H. Umar membentuk sebuah dewan yang bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan. Di masa pemerintahannya
,persoalan yang dihadapi pemerintah dapat diselesaikan di Madinah sehingga keluhan resmi ke Damaskus berkurang, . Banyak orang dari Irak datang ke Damaskus mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al Hajjaj bin Yusuf. Ini membuat Al Hajjaj marah dan menekan Al Walid agar memberhentikan Umar. Walaupun diberhentikan, Umar telah memiliki reputasi yang tinggi di kekhalifahan Islam masa itu. Di masa kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik, Umar diangkat menjadi menteri kanan dan penasihat utama khalifah.

Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Menjelang Khalifah Sulaiman wafat, penasihat kerajaan, Raja’ bin Haiwah menasihatinya, “Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebab engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk umat Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?” Khalifah Sulaiman menjawab, “Aku melihat Umar bin Abdul Aziz.” Dalam surat wasiatnya ditulis nama Umar bin Abdul Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi ini dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga karena khawatir terjadi fitnah sebab khalifah baru bukan keturunan Abdul Malik bin Marwan. Sebelum wafat, Sulaiman memerintahkan para menteri dan gubernur berbaiah dengan calon khalifah yang namanya tercantum dalam surat wasiat.

Setelah Sulaiman bin Abdul Malik meninggal, umat Islam berkumpul di masjid dalam keadaan bertanya-tanya siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ bin Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini.” Umar bin Abdul Aziz lalu berpidato, “Wahai manusia! Saya diuji untuk mengemban tugas ini tanpa dimintai pendapat, permintaan dari saya, atau musyawarah kaum Muslimin. Maka sekarang saya membatalkan hajat yang kalian berikan kepada saya dan untuk selanjutnya pilihlah khalifah yang kalian suka!” Tetapi orang-orang yang hadir serempak berkata, Kami telah memilih engkau. Perintahlah kami dengan kebahagiaan dan keberkatan.” Kemudian Umar berkata, Wahai manusia! Barang siapa menaati Allah wajib ditaati, siapa yang mendurhakai-Nya tidak boleh ditaati. Taatilah saya selama saya menaati Allah dalam memerintahmu dan jika saya mendurhakai-Nya, tidak ada seorang pun boleh menaati saya.”

Setelah mengurus pemakaman Sulaiman, Umar pulang ke rumah untuk beristirahat hingga Zuhur. Tetapi puteranya Abdul Malik melarangnya beristirahat sebelum mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi karena tidak ada jaminan khalifah Umar masih hidup sampai waktu Zuhur. Mendengar perkataan puteranya, Umar segera berdiri dan merangkul anaknya. Ia sangat bersyukur memiliki anak yang menolongnya dalam beragama. Setelah itu ia memerintahkan untuk menyeru semua orang, bahwa orang yang pernah dicurangi orang lain agar melapor. Umar pun mengembalikan hak-hak yang telah dirampas dengan curang kepada yang punya.

Umar pernah mengumpulkan ahli fikih dan ulama untuk meminta pendapat mereka mengenai hasil tindakan curang yang terjadi di keluarganya. Mereka mengatakan, ”Itu semua terjadi sebelum masa pemerintahanmu, maka dosanya bagi yang merampas.” Umar tidak puas dengan jawaban itu dan meminta pendapat kelompok lain yang juga beranggotakan anaknya, Abdul Malik. Abdul Malik berkata, ”Saya berpendapat, hasil-hasil itu harus dikembalikan kepada yang berhak, selama engkau mengetahuinya. Jika tidak dikembalikan engkau menjadi kelompok mereka yang merampasnya dengan curang.” Mendengar itu Umar puas dan langsung berdiri untuk mengembalikan hasil tindak kecurangan itu.

Umar bin Abdul Aziz mulai memerintah di saat dinasti Bani Umayyah mengalami pembusukan internal yang serius, dan ia bagian dari dinasti ini. Ia tidak lama memerintah, hanya 2 tahun 5 bulan, tetapi namanya ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Dalam masa pemerintahannya, Umar berhasil memulihkan keadaan negara dan mengondisikan negara seperti saat 4 khalifah pertama memerintah. Kebijakan dan kesederhanaan hidupnya tidak kalah dengan Khulafaur Rasyidin. Umar bin Abdul Aziz telah melakukan reformasi total, menegakkan keadilan hingga bisa meraih memakmuran. Indikator kemakmuran yang ada saat itu luar biasa. Para amil zakat berkeliling negeri, tapi mereka tidak menemukan seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, mustahiq zakat telah habis. Negara benar-benar surplus, bahkan sampai pada tingkat rumah, kendaraan, utang pribadi, dan biaya pernikahan warga ditanggung negara.

Semuanya tidak dilakukan dengan mudah. Memulai dari diri sendiri, keluarga, istana, itulah yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz untuk memulai reformasi. Selesai dilantik, Umar memasukkan seluruh harta pribadinya ke kas negara untuk kepentingan seluruh kaum muslimin. Ia hanya mengambil 2 dirham untuk kebutuhannya Ia juga menolak tinggal di istana yang mewah dan memilih tetap tinggal di rumahnya. Hidupnya berubah total dari pencari dunia menjadi seorang yang zuhud, pencari kehidupan akhirat yang abadi. Setelah selesai dengan dirinya, ia melangkah dengan keluarga inti. Ia memberi istrinya dua pilihan, perhiasan dan harta pribadinya atau Umar bin Abdul Aziz sebagai suaminya. Istrinya memilih ikut bersama suaminya dalam reformasi ini. Langkah ini juga dilakukannya dengan anak-anaknya. Awalnya anaknya protes karena sejak ayahnya menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi makan makanan enak. Mendengar ini Umar menangis dan berkata, ”Aku beri kalian makanan yang enak dan lezat, tapi kalian harus rela memasukkanku ke neraka atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama. Selanjutnya ia melangkah ke istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang mewah yang ada di istana dan memasukkan uangnya ke kas negara. Ia juga mencabut secara bertahap fasilitas mewah yang selama ini dinikmati keluarga istana. Langkah pembersihan diri, keluarga, dan istana ini meyakinkan publik akan kebijakan politik pemerintah. Khalifah telah berhasil menunjukkan tekadnya melakukan perubahan dan memberi teladan yang menakjubkan. Dalam memerintah Khalifah Umar bekerja sama dengan ulama dan bertindak atas dasar wahyu Ilahi.

Langkah kedua Umar adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara terletak pada struktur negara yang gemuk, birokrasi yang panjang, yang administrasi rumit, dan gaya hidup para penyelenggara negara. Umar mulai membersihkan struktur negara dari pejabat yang korup, tidak kompeten yang dilantik karena pengaruh keluarga khalifah; merampingkan struktur.negara; memperpendek rantai birokrasi; dan menyederhanakan administrasi negara. Sebagai gantinya ia mengangkat pejabat yang bersih dan berwibawa. Umar juga menghapuskan pegawai pribadi bagi khalifah sehingga khalifah mudah bertemu dengan rakyat.

Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi negara secara adil. Umar memompakan semangat bisnis dan wirausaha di tengah masyarakat, memompakan semangat menolak kemiskinan dan menolak kemewahan. Ia mengingatkan rakyatnya bahwa memberi zakat lebih mulia daripada menerima zakat, sedangkan jika menjadi orang miskin bagaimana akan membayar zakat. Zakat merupakan bentuk subsidi silang yang langsung dapat dirasakan manfaat ekonominya. Zakat mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat karena akan menaikkan daya beli. Ini menaikkan permintaan masyarakat yang selanjutnya menaikkan suplai barang sehingga produksi akan meningkat. Jadi, zakat mempunyai efek yang baik untuk ekonomi secara mikro dan makro.

Umar bin Abdul Aziz juga menekankan pengamalan agama. Ia memerintahkan mendirikan shalat berjamaah, menjadikan masjid tempat mempelajari hukum Allah, mengarahkan Muhammad bin Abu Bakar Al-Hazni di Makah mengumpulkan dan menyusun hadits Rasul. Dalam bidang ilmu, ia mengarahkan cendikiawan Islam menerjemahkan buku kedokteran dan ilmu lain dari bahasa Yunani dan Latin ke bahasa Arab agar mudah dipahami umat Islam. Ia juga mengirim ulama ke Afrika Utara, raja-raja di India, dan Turki, bahkan sampai ke Sriwijaya untuk mengajak mereka kepada Islam. Selain itu ia menghapuskan bayaran jizyah yang diwajibkan kepada orang yang bukan Islam dengan harapan banyak di antara mereka yang akan memeluk Islam. Pada masa pemerintahannya, Portugis dan Spanyol sudah di bawah kekuasaan Islam dan pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Kebijakannya yang lain adalah: membangun wisma untuk musafir dan ibnu sabil; memberi karyawan gaji yang cukup; memberi ulama dan cerdik pandai jaminan kebutuhan hidup supaya mereka dapat berkonsentrasi pada bidang masing-masing tanpa memikirkan kebutuhan hidup;memberi orang buta penuntun yang digaji negara, menampung dan membiayai anak yatim yang tidak punya saudara; mremberi gubernur gaji dan tunjangan yang besar supaya tidak korupsi.

Umar bin Abdul Aziz meninggal tahun 101 H, diracun oleh pembantunya. Muhammad bin Ali bin Husain berkata tentang beliau, ”Kalian tahu setiap kaum selalu mempunyai satu tokoh yang menonjol dan tokoh yang menonjol dari Bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz. Saat dibangkitkan di hari kiamat kelak merupakan satu kelompok tersendiri.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz
http://dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=900&cat=2
http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/abad-02/umar-bin-abdul-aziz-ra-61-101-h.html
http://www.belajarislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=132%3Akhalifah-umar-bin-abdul-aziz&itemid=96

Blog EntryCross CountryMay 6, '08 12:25 PM
for everyone





















Sore yang menyedihkan...
Gambar sebelah kiri jalan yang sudah berhasil kulewati dengan sangat hati-hati. Menaksir ketinggian genangan air dan kemampuan melompatinya. Maklum, pke sepatu sandal. Kalo sampai kecebur ke kubangan karena salah pilih jalan, orang-orang bakal tau aku habis cross country
Gambar sebelah kanan, jalan yang bakal kulewati. Masih banyak tanahnya. Bisa dibilang jalurnya aman terkendali
Rute cross country ini harus dilewati dari kantor ke jalan raya. Secara, waktu itu libur, tapi kita lembur. Jadi jemputan kita gak datang. Sore pas mau pulang tiba-tiba hujan deras. Begitu reda, aku dan teman-teman langsung pulang, khawatir ntar deras lagi, malah gak bisa keluar sama sekali. Tapi ternyata jalannya becek banget. Bukan becek lagi kali ya, banjir!!! Menyedihkan sekali... Padahal kantorku gak di pelosok-pelosok amat. Jakarta coret sih, tapi gak nyampe 15 menit dari batas kota. Kalo udah hujan begini, kita merasa di negeri antah-berantah.
Heran deh, jalanan ancur begitu gak dibetulin juga. Kita deh yang menderita. Apalagi kalo hujannya pagi-pgi, bt semesta alam deh. Merusak mood!


Blog EntryTanda Tangan Laskar PelangiApr 1, '08 1:28 AM
for everyone












Akhirnya kudapatkan juga tanda tangan author Laskar Pelangi.  Langsung tanda tangan di 3 buku Alhamdulillah... terima kasih uni, dikau mendapatkannya untukku.

Ceritanya, Andrea Hirata ngisi acara di kantor kakakku dan kakakku berhasil mendapatkan tanda tangannya

Jadi ingat waktu ke Islamic Book Fair. Aku sampai di sana pas magrib. Di gerbang lihat ada orang bergerombol. Ada yang ngacungin buku. Andrea Hirata kali, pikirku. Aku mendekat, berusaha ngeliat. Tapi karena terlalu ramai gak bisa liat Andreanya, ketutupan orang-orang.

Karena ada mobil berhenti di depanku aku bergeser. Ternyata mobilnya Andrea. Dia langsung digiring masuk mobil sama orang-orang dari manajemennya dari pintu kiri. Pintunya ditutup. Tapi ada yang dengan sopan membuka pintu sebelah kanan dan menyodorkan bukunya untuk ditandatangani. Niat amat, pikirku. Tapi pas itulah aku berhasil liat Andrea. Dari balik kaca mobil sih, rambut ikal dan jidat jenongnya gak bakal salah. Jidat orang pintar


Blog EntryGaudeamus IgiturMar 14, '08 1:55 AM
for everyone
Familiar dengan judul itu? Katanya itu lagu mahasiswa internasional, lagu jadul and melegenda. Logikanya semua mahasiswa kenal ya? Tapi aku tau cuma karena kakakku pernah nyanyiin lagu ini
Di kampusku (seingatku he...he...) aku gak kenal lagu ini. Pas penyambutan mahasiswa baru kita disambut dengan lagu We are The Champions yang dimainkan dengan angklung. Angklung
!!! Sejak saat itu aku jatuh cinta dengan alat musik ini, walau gak pernah memainkannya, hanya jadi penikmat
Tapi ternyata teman kantor yang kakak kelas satu almamater kenal lagu ini. Kenal di kampus kok katanya. Gak tau pas angkatanku sudah gak dikenalin lagi ato gimana??
Tapi kayaknya tuh lagu ada berbagai versi. Ini salah satu yang kudapat.

Gaudeamus Igitur

 (trans. R. Masciantonio)

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus
Post jucundum juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.
Let us rejoice therefore
While we are young.
After a pleasant youth
After a troublesome old age
The earth will have us.
Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.
Where are they
Who were in the world before us?
You may cross over to heaven
You may go to hell
If you wish to see them.
Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.
Our life is brief
It will be finished shortly.
Death comes quickly
Atrociously, it snatches us away.
No one is spared.
Vivat academia
Vivant professores
Vivat membrum quodlibet
Vivat membra quaelibet
Semper sint in flore.
Long live the academy!
Long live the teachers!
Long live each male student!
Long live each female student!
May they always flourish!
Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae amabiles
Bonae laboriosae.
Long live all maidens
Easy and beautiful!
Long live mature women also,
Tender and loveable
And full of good labor.
Vivant et republica
et qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.
Long live the State
And the One who rules it!
Long live our City
And the charity of benefactors
Which protects us here!

Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.

(vers. C. W. Kindeleben 1781)

Let sadness perish!
Let haters perish!
Let the devil perish!
Let whoever is against our school
Who laughs at it, perish!


Blog Entry(17 + 1) in 1Mar 14, '08 1:22 AM
for everyone

Maksudnya 17 penumpang dan 1 sopir di angkot KR yang kunaiki kemarin

Seperti biasa kami pulang kantor naik angkot langganan yang selalu menjemput ke kantor. Berhubung kantorku tidak terletak di pinggir jalan, masuk dulu sekitar 250 meter, keberadaan angkot ini sangat membahagiakan. Jalan kaki ke jalan raya sebenarnya tidak jauh, tapi karena jalannya tanah dan berbatu, lain ceritanya. Apalagi kalau hujan, becek deh!

Kemarin pas pulang kantor lagi gerimis, angkotnya laris manis. Karena gak tega kalau harus ada yang jalan kaki ke depan, semuanya kita tampung di angkot. Seperti biasa di bangku menyamping 4 dan 6. Terus ada 2 yang duduk di bangku tempel, 2 di samping pak sopir yang sedang bekerja, dan 3 dipangku. Total ada 18 orang dengan sopirnya. Untunglah angkotnya gak kenapa-kenapa. Tapi kalau nanti sore kita gak dijemput, mungkin saja karena angkotnya turun mesin. Aduh... jangan sampai deh, kasihan pak sopirnya dan tentu saja kasihan kami juga

Tapi kejadian kemarin bukan yang pertama. Dulu juga pernah kami naik angkot dengan kepadatan yang sama. Selain itu kami juga pernah naik mobil kantor dengan 14 penumpang + 1 sopir (mobilnya suzuki carry lho). Waktu itu hujan juga dan angkotnya gak jemput. Akhirnya sopir kantor dengan baik hati dan tidak sombong mau mengantar ke jalan raya. Ada 2 teman di samping sopir, 4 di bangku tengah + 1 dipangku. Di bangku belakang yang joknya dipasang menyamping ada 3 + 3 orang dan 1 dipangku. Dan tidak semua yang naik masuk kategori langsing lho

Berarti semua kendaraan yang membawa kami harus sehat, tahan banting. Berhubung jalanannya jelek, harus siap terbanting-banting. Kapan ya jalanan itu diperbaiki???


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help